Kecamatan Karangtengah Ikuti Sosialisasi Ketahanan Keluarga Bersama KKN UGM dan CPMH

Karangtengah- Tim KKN-PPM UGM Karangtengah tahun 2020 bekerjasama dengan Kecamatan Karangtengah mengadakan webinar bertajuk “Sosialisasi Ketahanan Keluarga Pada Masa Pandemi” secara daring melalui Google Meet pada Senin, (3/8) silam bersama Nurul Kusuma Hidayati, psikolog Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Acara dibuka oleh Sofiyan, SE, Akt. Selaku Camat Karangtengah dengan diawali sambutan. “Harapan kami, sosialisasi ini dapat memberikan semangat pada warga, perangkat desa dan masyarakat Karangtengah agar semakin bersemangat, tidak cemas, dan tidak galau dalam menghadapi berbagai cobaan pandemi ini. Memang berbagai hal dan cara sudah ditempuh oleh pemerintah, terutama sosialisasi, edukasi, bahkan pemberian bantuan sudah diberikan, namun hal ini akan menambah keyakinan pada kita bahwa Covid-19 pasti akan berlalu,” ujar Sofiyan menyampaikan sambutan.

Selanjutnya, sosialisasi pun dilanjutkan oleh materi mengenali ketahanan keluarga. “Keluarga sangat penting dalam menghadapi pandemi, karena memang pandemi ini tidak bisa dihadapi secara individu, tapi bagaimana kita bekerja sama secara komunal, komponen paling melekat dan paling kecil adalah keluarga,” ujar Nurul mengawali acara.

“Ketika kita mengenal ketahanan keluarga, mungkin kedengarannya klise tapi ternyata tidak. Bapak, Ibu, dan teman-teman merasakan tidak bahwa pandemi ini sejatinya disatu sisi membuat kita mau tidak mau mengevaluasi keluarga kita,” ucap Nurul.

“Mari kita lihat lagi, sebenarnya yang seperti apa sih keluarga tangguh itu? Sudahkah itu ada didalam keluarga kita masing-masing? Mengutip perkataan Prof DeFrain, kita akan selalu menemukan kekurangan dan masalah dalam keluarga, tetapi hal yang sama sebaliknya pun akan berlaku bahwa kita juga akan menemukan kekuatan dalam keluarga. Hal ini menunjukan bahwa yang penting untuk kita lakukan adalah memetakan keluarga kita,” ujar Nurul.

Nurul menyampaikan bahwa model ketahanan keluarga pada masa pandemi dapat dilihat  sebagai suatu keberuntungan dan kesempatan besar dalam memperbaiki keluarga, agar keluarga memiliki frame dan rangka kerjanya yang sebetulnya bukan pekerjaan ringan.

“Berdasarkan temuan Prof. John DeFrain, ia menemukan pola kekuatan (ketahanan) keluarga yang luar biasa mirip dari berbagai budaya di dunia. Terdapat kesamaan pola yang dirumuskan dalam enam pilar ketahanan keluarga,” jelas Nurul.

Pertama, apresiasi dan kasih sayang satu sama lain. Kedua, komunikasi positif. Ketiga, komitmen kepada keluarga. Keempat, waktu yang menyenangkan bersama. Kelima, kesejahteraan spiritual dan nilai bersama (shared values) dan terakhir, kemampuan untuk mengelola stress dan krisis secara efektif.

“Pilar ketahanan keluarga memiliki enam pilar tersebut, sehingga kita dapat mengevaluasi secara tepat sasaran, problem solving dan pengembangannya juga tepat. Kalau kita meminta konsultasi juga bisa,” ucap Nurul.

“Pak DeFrain pernah berkata bahwa kita selalu punya kesempatan untuk membina keluarga yang tangguh, meskipun kita berasal dari keluarga yang sangat tidak tangguh. Jadi seburuk apapun keluarga kalian berasal, kita tetap akan punya kesempatan untuk membangun keluarga yang tangguh,” tambah Nurul.

“Lewat pernyataan tersebut, kita bisa berkaca bahwa menciptakan keluarga yang tangguh bukan hanya sekedar teori. Kita jangan pernah pesimis dan berputus asa bahwa seburuk-buruk apapun keluarga yang dimiliki, setidaktangguh apapun keluarga yang dimiliki, pasti ada satu atau dua kekuatan yang bisa digali, karena setiap keluarga pasti punya kekuatan. Mari kita temukan dan kita gali kekuatan itu, mengembangkan kekuatan itu sehingga memicu kekuatan-kekuatan yang lain,” ucap Nurul sekaligus menutup acara sosialisasi.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *