BERANDA

EDUKASI MP-ASI DAN PRAKTIK PEMBUATAN MP-ASI BERBAHAN DASAR PANGAN LOKAL DI POSYANDU DESA DUKUN

Posted on

Demak, Agustus 2022 –  Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan pendamping ASI yang diberikan kepada bayi setelah melalui ASI eksklusif selama 6 bulan. Pemberian MP-ASI yang baik menjadi salah satu upaya dalam pencegahan stunting pada anak. MP-ASI dapat dibuat dengan berbagai bahan yang mudah ditemukan, seperti ikan, ati, bayam, wortel, dan lain sebagainya.

Pada 23 Juli 2022, Mahasiswa KKN-PPM UGM berkesempatan memberikan edukasi dan demonstrasi pembuatan MP-ASI di Pos 5 Posyandu Desa Dukun yang berlokasi di Dusun Perbalan. Edukasi dan demonstrasi diberikan di Pos 5 karena pos tersebut adalah pos yang paling banyak terdapat bayi yang masih berada di tahap ASI eksklusif dan siap memasuki masa pasca ASI eksklusif.


Kegiatan dimulai dengan kegiatan posyandu yakni pendaftaran, penimbangan berat, pengukuran panjang badan, pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat), pemberian edukasi dan imunisasi. Setelah kegiatan rutin posyandu dilakukan, Mahasiswa KKN-PPM UGM memberikan edukasi mengenai MP-ASI dan dilanjutkan dengan demonstrasi sederhana pembuatan MP-ASI. Demonstrasi MP-ASI dilakukan dengan menunjukkan cara pembuatan MP-ASI untuk bayi usia 6-9 bulan dan 9-12 bulan dengan bahan dasar nasi, ati, bayam, dan wortel. Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pemberian challenge pembuatan MP-ASI. Kegiatan berjalan lancar dan diikuti secara antusias oleh Ibu-Ibu Posyandu Pos 5 Desa Dukun.

BERANDA

KUMBANG KOKSI SEBAGAI HAMA DAN PREDATOR PADA PERTANIAN DI DESA WONOWOSO

Posted on

Demak, Agustus 2022 – Potensi sumber daya agro yang ditemukan yaitu terong yang berlokasi di daerah belakang perumahan Wonowoso, Karangtengah, Demak. Tanaman terong (Solanum melongena) sendiri merupakan jenis sayuran tahunan semusim. Tanaman terong milik Bapak Rozi seluas 0,25 hektar. Beliau mengatakan bahwa terdapat OPT yang sering dijumpai, salah satunya kumbang koksi yang sering memakan daun muda tanaman terong.

Kumbang koksi dikenal sebagai sahabat petani karena beberapa anggotanya memangsa serangga hama seperti spesies aphid. Walaupun demikian, ada beberapa spesies koksi yang juga memakan daun sehingga menjadi hama tanaman, yaitu dari sub-famili Epilachninae. Kenali beberapa perbedaan kumbang koksi yang berperan sebagai hama dan berperan sebagai predator sahabat petani (musuh alami). Berikut penjelasannya:

Jenis serangga yang dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama tanaman pertanian adalah serangga pemakan daun dari ordo Coleoptera, yaitu kumbang koksi (Epilachna admirabilis). Kepik atau kumbang koksi adalah serangga perusak daun dan kuncup daun. Kepik lebih menyukai tempat yang rimbun dan agak gelap untuk meletakkan telurnya.

Gejala serangan hama kumbang koksi Epilachna sp. ini yaitu adanya bekas gigitan pada permukan daun bagian bawah. Pada serangan berat, bekas gigitan hama kumbang koksi ini dapat merusak semua jaringan daun, sehingga mengakibatkan daun hanya tinggal tulang-tulang daun saja. Kumbang dewasa dan larva memakan daun dapat menyebabkan kerusakan serius. Saat menjadi larva, kumbang koksi akan memakan jaringan daun dari bagian bawah, sementara ketika sudah menjadi dewasa, kumbang koksi akan memakan jaringan daun dari bagian atas. Hama ini dapat menyebabkan kerontokan daun yang hebat dan kehilangan hasil panen yang tinggi dan oleh karenanya hama ini merupakan salah satu hama terong yang paling berbahaya.

Gejala kerusakan kumbang koksi

Strategi Pengendalian

  1. Pengendalian Hayati

Jika memungkinkan di alam masih terdapat musuh alami dari kumbang koksi bisa dimanfaatkan sebagai pengendalian hayati. Contoh dari predator kumbang koksi yaitu Tawon Prasit dari family Pediobius. Kemudian dapat menggunakan biopestisida seperti bakteri Bacillus thurengiensis atau jamur Aspergillus spp. dapat digunakan sebagai aplikasi semprotan daun.

  1. Tindakan Pencegahan
  • Hindari menanam terong di lahan atau di sekitar lahan yang terserang
  • Pilih dan hancurkan larva dan kumbang dewasa yang ditemukan di lahan
  • Sanitasi (pembersihan) lahan tanaman terung
  1. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian ini digunakan ketika sudah mempertimbangkan pengendalian hama secara terpadu (PHT). Contoh pengendalian kimiawi yaitu dapat menggunakan insektisida yang mengandung dimethoate, fenvelarate, malathion dapat diaplikasikan pada daun.

 

Sumber referensi:

Muis,A., Suriani., S.H.Kalqutni, dan N.Nonci. 2018. Penyakit Bulai Pada Tanaman Jagung dan

Upaya Pengendaliannya. Yogyakarta: Deepublish.

Semangun,H. 2008. Penyakit-penyakit tanaman pangan di Indonesia (Edisi Kedua). Yogyakarta :

Universitas Gadjah Mada Press.

BERANDA

EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING DAN DEMAM BERADAH DI POSYANDU DESA DUKUN

Posted on

Demak, Agustus 2022 – Stunting dan demam berdarah menjadi isu yang cukup hangat khususnya di Kabupaten Demak. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan asupan gizi kurang akibat pemberian makanan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting bisa terjadi sejak dalam kandungan dan baru terdeteksi saat usia 2 tahun. Kondisi stunting dapat berdampak berkepanjangan hingga anak dewasa sehingga isu ini menjadi penting diberikan edukasinya kepada Ibu dengan bayi agar dapat mencegah dampak buruk dari stunting. 

Salah satu penyebab anak stunting adalah kurangnya kebersihan lingkungan dan perlu dicegah dengan penjagaan kebersihan lingkungan yang baik. Disamping itu, kematian akibat demam berdarah juga menjadi isu yang hangat di Kabupaten Demak. Dari PLT Dinas Kesehatan Kabupaten Demak diketahui hingga 17 Juni 2022 terdapat 116 kasus Demam Berdarah dengan 1 kasus kematian. Kasus tersebut terus meningkat hingga bulan Juli 2022 sehingga edukasi mengenai demam berdarah dan pencegahannya menjadi penting untuk diberikan.

 

Pada tanggal 21 Juli 2022, Mahasiswa KKN-PPM UGM berkesempatan memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting dan demam berdarah kepada Ibu dengan bayi di Pos 3 Posyandu Desa Dukun yang berlokasi di Dusun Perbalan. Kegiatan dimulai dengan kegiatan posyandu yakni pendaftaran, penimbangan berat, pengukuran panjang badan, pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat), dan pemberian imunisasi. Kemudian, ibu-ibu dan anak di posyandu dikumpulkan untuk mendapatkan edukasi dari Bidan Desa Dukun dan Puskesmas Karangtengah. Setelah edukasi diberikan, Mahasiswa KKN-PPM UGM melanjutkan edukasi mengenai serba-serbi stunting dan demam berdarah. Sebagai salah satu upaya konkret pencegahan demam berdarah, Mahasiswa KKN-PPM UGM juga membagikan abate, larvasida yang efektif mengontrol jentik nyamuk, sebanyak 10 gram.