Demak, Agustus 2022 – Pertanian merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
Desa Wonowoso merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak potensi alam yang mampu dikembangkan, salah satunya adalah pada sektor pertanian. Terdiri dari subsektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Sektor pertanian mempunyai peran besar dalam menunjang kehidupan masyarakat Desa Wonowoso. Aset alam yang banyak tersedia seperti air membuat kecamatan ini banyak dibuat persawahan yang mayoritas menanam padi dan hortikultura. Hasil yang didapat sebelum lahan sawah tergenang dapat berupa bawang merah, padi, cabai, dan terong. Akan tetapi, pada dua tahun terakhir masyarakat Desa Wonowoso mulai mengalihkan usaha tani menjadi usaha perikanan dengan mengubah sawah menjadi kolam ikan. Hal ini dikarenakan naiknya permukaan air laut yang menyebabkan lahan sawah menjadi tergenang. Keadaan tersebut dapat merubah yang berawal dari petani menjadi usaha pertambakan. Kerugian lahan sawah menjadi pertambakan adalah masuknya air asin komposisi tanah menjadi tidak bagus karena menyerap ion-ion zat hara seperti magnesium, kalsium, dan kalium dan tekanan osmotik terhadap tanaman, jadi tahap pertumbuhan tidak bagus. Kelebihan lahan sawah adalah salinitas tinggi cocok dipelihara ikan air payau dan dapat menjadi sentra produksi perikanan
Perikanan terfokus pada segala kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dengan merubah menjadi perikanan bisa menjadi sumber penghasilan dan dapat mengubah mata pencaharian. Hasil yang didapat dari pertambakan adalah ikan nila, ikan gabus, dan udang.
Demak, Agustus 2022 – Kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan rumah menjadi tempat untuk berkebun telah banyak dilakukan masyarakat sejak pandemi bermula. Selain untuk mengisi waktu luang daripada berdiam diri di rumah, berkebun di pekarangan juga bermanfaat untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Jenis komoditas yang banyak ditanam di pekarangan rumah yaitu komoditas hortikultura. Hortikultura merupakan cabang ilmu pertanian yang membahas mengenai tanaman buah, sayur, dan tanaman hias. Kata hortikultura berasal dari bahasa latin yakni hortus yang diartikan sebagai taman dan colere yang artinya untuk menumbuhkan.
Jenis tanaman hortikultura yang banyak ditanam masyarakat di Desa Wonowoso, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak yaitu tanaman terong dan cabai. Tanaman terong (Solanum melongena L.) merupakan tanaman semusim yang termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman terong dapat tumbuh hingga ketinggian 40–150 cm. Memiliki daun dengan panjang 10–20 cm dan lebar 5–10 cm. Tanaman terong dapat tumbuh di daerah beriklim tropis dengan ketinggian 0–1200 mdpl. Tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman terong adalah tanah lempung dan memiliki kandungan unsur hara yang cukup. Suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman terong antara 25–30° C. Berbagai jenis terong yang dibudidayakan di Indonesia yaitu terong gelatik, terong kopek, terong bogor, terong medan, dan terong jepang.
Jenis tanaman lain yang banyak dibudiayakan di Desa Wonowoso yaitu tanaman cabai. Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman perdu yang termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman cabai dapat tumbuh pada dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian tempat 0-1250 mdpl. Tanaman cabai dapat tumbuh hingga ketinggian 120 cm. Suhu udara yang cocok bagi pertumbuhan tanaman cabai berkisar antara 18–30° C. Kelembaban udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman cabai yaitu antara 60–80%. Kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanman cabai yaitu tanah lempung berpasir dengan derajat keasaman (pH) antara 6–7. Berbagai jenis cabai yang banyak ditanam di Indonesia yaitu cabai merah besar, cabai keriting, cabai rawit, dan cabai hijau besar.
Dalam perkembangannya, komoditas hortikultura memiliki berbagai manfaat terutama bagi masyarakat Desa Wonowoso. Tanaman terong yang ditanam di Desa Wonowoso dapat digunakan sebagai bahan makanan sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Tanaman terong memiliki berbagai kandungan gizi seperti protein, karbohidrat, serat, lemak, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan magnesium. Tanaman terong juga memiliki manfaat untuk kesehatan antara lain dapat menekan risiko penyakit jantung, mencegah penyakit diabetes, menurunkan berat badan, dan melancarkan sistem pencernaan. Sedangkan tanaman cabai yang ditanam oleh masyarakat Desa Wonowoso dapat digunakan sebagai bahan tambahan masakan. Tanaman cabai juga memiliki kandungan gizi seperti vitamin A, vitamin C, vitamin B6, protein, karbohidrat, dan lemak. Manfaat yang dimiliki tanaman cabai bagi kesehatan yaitu tanaman cabai dapat digunakan sebagai penghilang rasa sakit, detoksifikasi, penurun berat badan, melancarkan pernapasan, dan mencegah penyakit jantung.
Demak, Agustus 2022 – Mahasiswa KKN-PPM UGM Periode 2 melakukan observasi dan analisis isu pertanian yang terjadi di Desa Wonowoso yakni desa yang berada di Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah yang menjadi salah satu lokasi pelaksanaan KKN-PPM UGM. Desa Wonowoso merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Desa ini dikenal sebagai kawasan yang cukup ramai karena dilewati oleh Jalan Nasional Rute 1 atau dikenal juga dengan Jalur Pantai Utara (Pantura). Selain itu, daerah Desa Wonowoso juga dikenal sebagai rute wisata karena di arah barat laut terdapat lokasi wisata di Desa Tambakbulusan. Secara potensi dalam bidang agro, Desa Wonowoso memiliki luas lahan pertanian yang cukup luas. Meskipun termasuk daerah yang ramai lalu lintas, tetapi kegiatan bercocok tanam masih terus berlanjut dan lahan pesawahan masih sangat luas. Akan tetapi, potensi agro yang dimiliki oleh Desa Wonowoso kini terancam oleh intrusi air laut yang mengakibatkan meningkatknya permukaan air laut terlebih saat terjadi air rob.
Lahan Pertanian di Desa Wonowoso yang Mulai Mengalami Kerusakan Akibat Intrusi Air Asin (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Kenaikan permukaan air laut mengakibatkan sebagian besar wilayah pertanian terutama pesawahan di Wonowoso terendam oleh air payau yang datang akibat terjadinya intrusi air laut. Dampak buruk yang dirasakan masyarakat terlebih para petani dari terjadinya intrusi laut ini adalah kegagalan panen secara masif di berbagai macam komoditas pertanian yang ditanam di area terdampak kenaikan air laut di Desa Wonowoso. Kegagalan panen tersebut diakibatkan oleh naiknya kadar garam atau salinitas air di wilayah pertanian. Menurut Hendri dan Saidi (2020), salinitas merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kenaikan salinitas air merupakan hal sensitif yang bagi sebagian besar tanaman pertanian. Kenaikan salinitas ini mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman di berbagai fase, baik di fase perkecambahan, pertumbuhan benih, vegetatif, dan generatif karena efek osmotik dan toksik ion garam. Unsur ion Na (Natrium) yang terdapat pada air dengan tingkat salinitas yang tinggi juga mengakibatkan menurunnya ketersediaan kandungan unsur hara dalam tanah seperti Ca (Kalsium), Mg (Magnesium), dan K (Kalium). Oleh karena itu, perlu dilakukan alih fungsi lahan agar wilayah pertanian yang sudah mulai tidak produktif ini dapat tetap memberikan manfaat dan menjadi ladang mencari nafkah bagi masyarakat setempat yang salah satunya adalah dengan membudidayakan ikan.
Kondisi wilayah pertanian yang semakin terendam air payau dapat dilihat sebagai peluang karena semakin tersedianya sumber daya air di wilayah Desa Wonowoso, meskipun air tersebut membawa dampak buruk bagi sektor pertanian. Salah satu peluang yang muncul dari kondisi ini adalah peluang untuk meningkatkan potensi perikanan. Wilayah pertanian dengan air menggenang yang melimpah dapat digunakan untuk pembuatan sistem pertanian yang terintegrasi dengan perikanan, contohnya adalah mina padi. Mina padi adalah metode pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman padi untuk meningkatkan produktiitas lahan dan efisiensi pengunaan lahan yang tersedia (Lestari dan Bambang, 2017). Sistem pertanian mina padi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem pertanian biasa yaitu selain dapat memanen padi juga dapat memanen ikan, hama dalam tanaman dapat dibasmi oleh ikan, dan feses ikan yang dikeluarkan dapat menjadi pupuk bagi tanaman. Untuk kasus di lahan pertanian Desa Wonowoso, mina padi dapat dilakukan dengan memelihara ikan yang memiliki ketahanan salinitas yang tinggi, contohnya adalah komoditas unggul yakni ikan nila salin (Oreochromis niloticus).
Di samping dapat diterapkan sistem pertanian mina padi, sistem surjan juga dapat menjadi salah satu cara untuk memaksimalkan lahan pertanian yang terendam air payau di Desa Wonowoso. Sistem surjan adalah sistem pertanian dengan cara menerapkan perbedaan ketinggian lahan untuk menanam jenis komoditas tanaman yang berbeda untuk mengakali lahan pertanian yang terendam oleh air. Disebut dengan surjan karena sistem pertanian ini memiliki pola tanam yang mirip dengan lurik pada baju surjan (Danarto, 2019). Lahan bagian atas biasanya ditanami dengan tanaman palawija, hortikultura, dan tanaman perkebunan. Sedangkan, lahan bagian bawah dapat ditanami dengan padi. Dengan adanya sistem pertanian mina padi dan surjan, maka selain dapat melakukan diversifikasi produksi, kegagalan total panen juga dapat dihindari karena terdapat komoditas yang tahan dan terhindar dari genangan air payau yang tengah melanda sebagian besar lahan pertanian di Desa Wonowoso sehingga apabila padi yang ditanam mengalami kegagalan panen, masih ada komoditas perikanan dan pertanian lainnya yang masih bisa dinikmati dan dimanfaatkan.
Hendri, J. dan Busyra B. S. 2020. Pengaruh Ameliorasi Lahan yang Terkena Intrusi Air Laut terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020. 605 – 615.
Lestari, S. dan Aziz N. B. 2017. Penerapan Minapadi dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Proceeding Biology Education Conference. 14: 70 – 74.