Demak, Agustus 2022 – Mahasiswa KKN-PPM UGM Periode 2 melakukan observasi dan analisis isu pertanian yang terjadi di Desa Wonowoso yakni desa yang berada di Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah yang menjadi salah satu lokasi pelaksanaan KKN-PPM UGM. Desa Wonowoso merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Desa ini dikenal sebagai kawasan yang cukup ramai karena dilewati oleh Jalan Nasional Rute 1 atau dikenal juga dengan Jalur Pantai Utara (Pantura). Selain itu, daerah Desa Wonowoso juga dikenal sebagai rute wisata karena di arah barat laut terdapat lokasi wisata di Desa Tambakbulusan. Secara potensi dalam bidang agro, Desa Wonowoso memiliki luas lahan pertanian yang cukup luas. Meskipun termasuk daerah yang ramai lalu lintas, tetapi kegiatan bercocok tanam masih terus berlanjut dan lahan pesawahan masih sangat luas. Akan tetapi, potensi agro yang dimiliki oleh Desa Wonowoso kini terancam oleh intrusi air laut yang mengakibatkan meningkatknya permukaan air laut terlebih saat terjadi air rob.

Kenaikan permukaan air laut mengakibatkan sebagian besar wilayah pertanian terutama pesawahan di Wonowoso terendam oleh air payau yang datang akibat terjadinya intrusi air laut. Dampak buruk yang dirasakan masyarakat terlebih para petani dari terjadinya intrusi laut ini adalah kegagalan panen secara masif di berbagai macam komoditas pertanian yang ditanam di area terdampak kenaikan air laut di Desa Wonowoso. Kegagalan panen tersebut diakibatkan oleh naiknya kadar garam atau salinitas air di wilayah pertanian. Menurut Hendri dan Saidi (2020), salinitas merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kenaikan salinitas air merupakan hal sensitif yang bagi sebagian besar tanaman pertanian. Kenaikan salinitas ini mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman di berbagai fase, baik di fase perkecambahan, pertumbuhan benih, vegetatif, dan generatif karena efek osmotik dan toksik ion garam. Unsur ion Na (Natrium) yang terdapat pada air dengan tingkat salinitas yang tinggi juga mengakibatkan menurunnya ketersediaan kandungan unsur hara dalam tanah seperti Ca (Kalsium), Mg (Magnesium), dan K (Kalium). Oleh karena itu, perlu dilakukan alih fungsi lahan agar wilayah pertanian yang sudah mulai tidak produktif ini dapat tetap memberikan manfaat dan menjadi ladang mencari nafkah bagi masyarakat setempat yang salah satunya adalah dengan membudidayakan ikan.
Kondisi wilayah pertanian yang semakin terendam air payau dapat dilihat sebagai peluang karena semakin tersedianya sumber daya air di wilayah Desa Wonowoso, meskipun air tersebut membawa dampak buruk bagi sektor pertanian. Salah satu peluang yang muncul dari kondisi ini adalah peluang untuk meningkatkan potensi perikanan. Wilayah pertanian dengan air menggenang yang melimpah dapat digunakan untuk pembuatan sistem pertanian yang terintegrasi dengan perikanan, contohnya adalah mina padi. Mina padi adalah metode pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman padi untuk meningkatkan produktiitas lahan dan efisiensi pengunaan lahan yang tersedia (Lestari dan Bambang, 2017). Sistem pertanian mina padi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem pertanian biasa yaitu selain dapat memanen padi juga dapat memanen ikan, hama dalam tanaman dapat dibasmi oleh ikan, dan feses ikan yang dikeluarkan dapat menjadi pupuk bagi tanaman. Untuk kasus di lahan pertanian Desa Wonowoso, mina padi dapat dilakukan dengan memelihara ikan yang memiliki ketahanan salinitas yang tinggi, contohnya adalah komoditas unggul yakni ikan nila salin (Oreochromis niloticus).
Di samping dapat diterapkan sistem pertanian mina padi, sistem surjan juga dapat menjadi salah satu cara untuk memaksimalkan lahan pertanian yang terendam air payau di Desa Wonowoso. Sistem surjan adalah sistem pertanian dengan cara menerapkan perbedaan ketinggian lahan untuk menanam jenis komoditas tanaman yang berbeda untuk mengakali lahan pertanian yang terendam oleh air. Disebut dengan surjan karena sistem pertanian ini memiliki pola tanam yang mirip dengan lurik pada baju surjan (Danarto, 2019). Lahan bagian atas biasanya ditanami dengan tanaman palawija, hortikultura, dan tanaman perkebunan. Sedangkan, lahan bagian bawah dapat ditanami dengan padi. Dengan adanya sistem pertanian mina padi dan surjan, maka selain dapat melakukan diversifikasi produksi, kegagalan total panen juga dapat dihindari karena terdapat komoditas yang tahan dan terhindar dari genangan air payau yang tengah melanda sebagian besar lahan pertanian di Desa Wonowoso sehingga apabila padi yang ditanam mengalami kegagalan panen, masih ada komoditas perikanan dan pertanian lainnya yang masih bisa dinikmati dan dimanfaatkan.
Daftar Pustaka:
Danarto, H. 2019. Lahan Surjan, Kearifan Lokal yang Menguntungkan. https://dpkp.jogjaprov.go.id/baca/Lahan+Surjan%2C+Kearifan+Lokal+Yang+Menguntungkan/250719/2e30befd5970849746ed059fd44261974fcfc2aa18f80ef548b707869cb1515f37. Diakses 9 Agustus 2022.
Hendri, J. dan Busyra B. S. 2020. Pengaruh Ameliorasi Lahan yang Terkena Intrusi Air Laut terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020. 605 – 615.
Lestari, S. dan Aziz N. B. 2017. Penerapan Minapadi dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Proceeding Biology Education Conference. 14: 70 – 74.
